Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) melangkah lebih jauh dalam mendukung perlindungan pekerja migran Indonesia dengan mendirikan Migran Resource Center (MRC). Langkah strategis ini bertujuan untuk memberikan akses informasi, advokasi, pelatihan, serta pendampingan hukum bagi pekerja migran dan keluarganya.
Pada Jumat (6/12/2024), UMP yang diwakili oleh Assoc. Prof. Akhmad Dharmawan, Dr. Yusuf Saefudin, dan Maizidah Salas, mengadakan audiensi dengan Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Dzulfikar Ahmad Tawalla, di Kantor Kementerian P2MI. Audiensi ini menjadi wadah untuk memperkenalkan MRC sebagai pusat layanan yang mendukung pekerja migran dalam menghadapi berbagai tantangan, mulai dari masalah perlindungan hukum hingga reintegrasi sosial.
Assoc. Prof. Akhmad Dharmawan, yang juga merupakan salah satu penggagas MRC, menjelaskan bahwa inisiatif ini muncul karena jumlah pekerja migran Indonesia yang besar dan masih dihadapkan pada sejumlah permasalahan. “Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah pekerja migran terbesar di dunia. Sayangnya, masih banyak persoalan yang belum terpecahkan. Melalui MRC, kami ingin memberikan solusi, baik dalam hal edukasi, advokasi, maupun pendampingan hukum yang lebih terintegrasi,” ungkap Dharmawan.
Wakil Menteri P2MI, Dzulfikar Ahmad Tawalla, menyambut baik inisiatif UMP dan memberikan apresiasi atas kontribusi perguruan tinggi dalam melindungi pekerja migran. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan akademisi dalam menciptakan solusi yang lebih efektif. “Kehadiran Migran Resource Center ini sangat kami butuhkan. Kementerian P2MI siap mendukung program-program yang relevan untuk melindungi pekerja migran, apalagi jika didukung oleh akademisi dan praktisi yang kompeten,” ujar Dzulfikar.
Dalam kesempatan tersebut, perwakilan UMP juga menyampaikan kesiapan mereka untuk mendukung kebijakan kementerian melalui riset, program edukasi, dan layanan langsung bagi pekerja migran. “Kami berharap kerjasama erat antara UMP dan Kementerian P2MI dapat memberikan dampak positif yang signifikan dan berkelanjutan bagi pekerja migran,” tambah Dharmawan.
Selain itu, Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), Hariyanto Suwarno, juga menyampaikan apresiasi terhadap upaya UMP. Ia menegaskan bahwa sinergi antara akademisi dan organisasi masyarakat merupakan hal yang sangat penting untuk mendukung pekerja migran. “Kolaborasi ini adalah contoh konkret bahwa perlindungan pekerja migran memerlukan pendekatan multipihak, dan kami bangga UMP turut berperan sebagai bagian dari solusi,” ujar Hariyanto.
Melalui MRC, UMP berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam memperbaiki kondisi pekerja migran Indonesia, memperkuat perlindungan hukum mereka, dan memfasilitasi proses reintegrasi sosial setelah mereka kembali ke tanah air. (ysf/tgr)


